Beberapa ratus yang
lalu, sebelum air bah menenggelamkan Bumi untuk pertama kalinya. Terdapat
perang besar yang melibatkan semua Negara di Bumi. Perang tersebut dilatar
belakangi oleh Tiga Negara dengan peradaban paling maju. Mereka ingin mengatur
Bumi.
Bumi saat itu, berada
dalam keadaan yang kacau balau. Beberapa Negara menganggap Tuhan telah mati.
Tiga Negara dengan peradaban paling maju itu, kemudian memiliki tujuan yang
sama, yaitu untuk membebaskan kebodohan itu. Tiga Negara tersebut bersatu
menjadi Negara kesatuan, Dwipa Antara.
Dwipa Antara memiliki
ibukota yang sangat indah, Yava. Yava adalah kota yang sangat subur, dimana
hasil Bumi sangat melimpah, baik itu dari laut maupun dari pertanian dan
peternakan. Keadaan ekonomi di Ibukota Dwipa Antara ini juga sangat baik,
hampir dari seluruh pelosok Bumi mencari barang dengan kualitas terbaik disini.
Saat itu, Yava memang pusat perdagangan di dunia.
Yava adalah tempat
berkumpulnya bangsa Dwipa Antara. Mereka berkumpul mulai dari wilayah paling
barat laut, Sabana sampai yang paling tenggara, Arinajaya. Selain menjual bahan
pangan, Yava juga menjual kerajinan tangan yang terbuat dari logam mulia
seperti emas, perak, perunggu dan logam yang lainnya. Sejatinya semua logam
mulia tersebut berasal dari Arinajaya. Senjata perang seperti pedang dan bedil dari
Sabana pun mudah ditemukan di Yava. Mungkin saat itu, karena Yava adalah pusat
militer Dwipa Antara.
Sebagai pusat militer,
Yava adalah kota yang aman, tingkat kejahatannya hampir tidak ada. Begitu pula
wilayah disekitarnya, hal ini membuat Dwipa Antara ditakuti oleh semua bangsa
di Bumi. Keberhasilan militer Dwipa Antara tidak terlepas dari kepimimpinan
Perwira Tinggi, Ramaya.
Beberapa tahun kemudian
kemiliteran Dwipa Antara yang dipimpin Ramaya berhasil membebaskan separuh dari
bumi dari jaman kebodohan. Sebagian masyarakat di Bumi kembali mengenal Tuhannya dan kembali bersedia menutup
auratnya.
Keberhasilan kepimpinan
Ramaya sebagai Perwira Tinggi, menarik hati sang raja. Raja Dwipa Antara pun
meminta Ramaya mempersunting Putri tunggalnya, Sintia Yavana. Ramaya yang
bersedia pun menjadi Raja Dwipa Antara berikutnya.
Beberapa tahun
sepeninggal Ramaya dari dunia kemiliteran, Dwipa Antara mengalami kemunduran di
bidang militer. Kekuatan militer yang melemah, lambat laun membangkitkan
beberapa orang-orang yang anti Dwipa Antara. Mereka membangun raliansi dengan
tujuan menjatuhkan jaman yang dibuat Ramaya di Bumi.
Orang-orang anti Dwipa
Antara awalna hanya berkelompok kecil. Kemudian dengan kemampuan menghasutnya, secara
cepat mereka berhasil mengendalikan beberapa Negara besar, seperti Ameria dan
Lusia. Dengan menguasai Ameria dan Lusia, orang-orang anti Dwipa Antara itu
telah berhasil menciptakan kekuatan militer yang sangat kuat. Ameria dan Lusia
pun sepakat untuk menyerang Dwipa Antara, alhasil selama beberapa bulan perang
berlangsung mereka hampir berhasil menaklukan ibukota Yava.
Kemerosotan militer dan
kehancuran Negara Dwipa Antara, telah memaksa Raja Ramaya turun tangan
langsung. Raja Ramaya yang murka dengan mantranya ikut berperang, beliau
menurunakan hujan badai yang sangat besar, begitu pula petir-petir yang
menyambar. Seluruh dataran di Bumi pun hampir ditutupi oleh air, begitu pula
Yava.
Yava dalam keadaan yang
sangat parah. Kota Yava menangis, keluarga kerajaan menangis sedih. Mereka melihat
rakyat yang tidak bersalah ikut menjadi korban perang. Seluruh penduduk Yava
berdoa, mereka meminta mukjizat dari Tuhan agar selamat.
Ramaya pun sentak ikut
menangis, ia berdoa memohon kepada tuhannya agar kota Yava bisa selamat.
Kemudian dengan izin
tuhan mereka, mukjizat didatangkan. Diangkatlah kota Yava ke Langit menjadi
negeri untuk para dewa dan dewi.