Merdeka!
Itulah kalimat yang pertama aku kenal sebelum aku mencintai Indonesia.
Aku lahir setelah 50 tahun Indonesia merdeka, tapi aku baru mengerti arti Indonesia 5 tahun kemudian. Waktu itu aku baru masuk Taman Kanak-kanak, meski aku baru tau Indonesia sebatas nama Negaraku saat itu.
Hari ini, 17 Agustus 2015.
Tanpa disengaja hari ini telah mendoktrin kita semua untuk mencintai negeri ini. Memperingati hari proklamasi, mengenang perjuangan pahlawan-pahlawan yang telah gugur, Ir. Soekarno, Moh. Hatta dan masih banyak yang lainnya.
Aku benar-benar mencintai negeri ini, tapi aku sangat malu karena selama ini aku belum bisa memberi kado terbaik negeri ini, mengharumkan negeri ini. Aku benar-benar sangat menyedihkan, selama ini aku hanya bertanya apa yang Indonesia berikan padaku tapi aku belum bisa memberikan apa-apa untuk Indonesia ini. Sementara, untuk menghirup satu nafas saja aku harus berhutang pada negaraku.
Jikalau sekarang Indonesia belum merdeka, apalah daya yang terjadi dihari ini?
Bisa bertahan hidup dari hari demi hari saja sudah cukup.
Kita harusnya bersyukur, jika kita melihat sejarah di masa lampau.
Hari ini apakah kita benar-benar sudah merdeka?
Jawabannya tentu berbeda tiap individu. Aku mungkin mejawab sudah, karena aku alhamdulillah sampai sekarang masih bisa melanjutkan pendidikan sampai sekarang. Tapi, jawabanku bisa juga belum merdeka. Badan Pusat Statistik milik negara menunjukan Angka kemiskinan dan pengangguran di tahun 2015 bisa terus bertambah.
Beberapa orang yang sebenarnya dikategorikan kurang mampu, hari ini pasti sama seperti kalian semua. Merayakan hari kemerdekaan. Mereka tidak peduli besok mau makan apa yang penting hari ini merdeka. Toh mereka masih bisa ngebul (*baca: merokok). Indonesia adalah surga bagi mereka yang merokok, dan neraka bagi mereka yang tidak merokok.
70 tahun dirgahayu Indonesia merdeka!
Jumlah perokok meningkat setiap tahunnya, kemudian disusul oleh pengonsumsi alkohol dan narkotika. Lalu, pengonsumsi konten porno. Mulai dari anak kecil hingga mereka para pejabat yang duduk dikursi pemerintah. Kejahatan seksual, praktek korupsi, begal, pemerkosaan, apa ada lagi?
Saat musim kering, kita kekeringan. Musim hujan, kehujanan (*baca: kebanjiran).
Jika dicari, tentu jumlah prestasi yang buruk lebih mudah untuk ditemukan untuk Indonesia ini.
Mungkin seharusnya, 17 Agustus ini lebih baik digunakan untuk menyepi. Merenungkan diri tentang apa yang sudah terjadi di Indonesia selama ini. Merenungkan diri kenapa melakukan tindakan-tindakan yang tidak seharusnya. Kita boleh berpesta dengan demokrasi, tapi mungkin lebih baik sebelum dan sesudah tanggal 17 ini. Tanggal 17 murni hanya untuk merenung, mengingat apa yang telah kita lakukan selama ini, mengingat apa yang telah diperjuangkan para pahlawan yang telah gugur sebelumnya. Lantas apa gunanya "Mengheningkan Cipta" disetiap upacara?
Mari kita ingat kembali apa yang sudah terjadi disetiap detik kita. Apakah kita bisa berubah untuk menjadi lebih baik lagi? atau malah menjadi sangat buruk. Mari kita renungkan! Mari kita bersama-sama merubah negara ini mulai dari diri kita sendiri!
Dirgahayu Indonesiaku!
Merdeka!