Secara umum mereka memanggilnya, Ibu.
Tempat dimana sang anak kembali pada rumahnya. Tempat dimana dipanjatkannya doa setiap waktu.
Lalu, kapan terahir kamu berdoa untuknya? Sementara ibadahmu berantakan! Tidur jelas tidak tentu, berdoa untuk tidur sendiri pun tidak. Kemudian, kapan kamu akan menjadi orang yang diharapkan Ibumu?
Jawabannya ada pada anak itu sendiri.
Aku adalah salah satu anak tersebut. Anak yang sudah berada didalam kandungannya selama kurang lebih 9 bulan 10 hari. Anak yang sudah dilahirkam, diijinkan hidup untuk sekali dalam seumur hidupnya. Tapi, apa anak ini sudah menjadi yang diharapkan ibunya?
Ibu mengharapkan banyak hal pada anaknya. Tapi, dia tidak pernah sekali pun meminta pada tuhan agar harapannya dikabulkan. Dia hanya ingin anaknya bahagia. Dia ingin apa yang dicita-citakan anaknya terwujud. Kemudian, dia berusaha untuk mensuport keinginan anak agar setidaknya bisa mendekati apa yang anaknya cita-citakan.
Bisakah kamu hitung seberapa banyak kebaikan ibumu?
Semasa kecil, Ibu tidak pernah berani melepasku sedetik waktu pun. Aku selalu ingat dimana dia dengan berat hati meninggalkanku diluar pintu kelas taman kanak-kanak. Kemudian setelah aku keluar kelas, barulah dia terlihat sedikit lega. Sebelumnya, aku tidak tau bagaimana dia mengajarkanku bicara, berjalan hingga akhirnya bisa menulis kalimat ini. Seandainya memori itu ada, kamu pasti tidak akan pernah sekali pun membantah satu kata dari Ibumu.
Perlahan, dia mulai mengijinkanku pergi ke taman kanak-kanak dengan saudara atau temanku. Aku ingat matanya, dia mencemaskanku. Aku pun pergi dengan mengucap salam. Sepulangnya dari kelas, didepan rumah Ibu sudah menungguku. Ibu terlihat sedikit tersenyum dia memelukku erat. Rasa cemasnya pun berahir.
Kecemasannya tidak akan pernah berahir.
Saat aku belajar sepeda, dia takut aku terjatuh. Aku bermain sepakbola, dia takut aku cedera. Dia selalu takut aku terluka. Kemudiaan saat aku sakit parah untuk pertama kalinya, dialah yang selalu berada didekatku. Sementara saat aku melihat Ibu sakit untuk pertama kalinya, aku malah marah padanya. Aku bukan anak yang baik. Aku bahkan sering menolaknya untuk membantunya. Aku selalu meminta banyak hal tapi aku tidak tau caranya membalas. Selalu setelah ayahku marah barulah aku bantu ibu. begitu seterusnya hingga aku dewasa.
Semakin dewasa, Ibu pun semakin cemas. Ibu takut aku terjebak didalam pergaulan yang tidak baik. Dia takut aku merokok, tapi kemudian aku merokok. Dia takut aku tidak beribadah, tapi aku sering meninggalkan ibadah. Dia takut aku meminum-minuman keras, tapi aku malah meminumnya.
Aku merokok diam-diam kemudian dia selalu tau. Segala hal yang sudah aku langgar dia tau. Bahkan saat aku sakit, kemudian dia menuduhku mengonsumsi miras. Sejak saat ini aku tau, sejak lahir aku dan ibuku memang memiliki hubungan batin. Dia tau apa yang aku lakukan, meski itu hanya firasatnya.
Kemudian dia memperingatkanku, aku diam. Dia tidak pernah berhenti untuk memperingatkanku untuk menjauhi beberapa hal yang menghancurkan masa depanku. Kemudian saat aku sakit, barulah aku mengerti apa yang diingankan ibuku. Dia tidak ingin masa depanku hancur sia-sia karena aku terbawa hal yang negatif. Aku salah bergaul. Aku pun bertobat karena ibuku.
Kini, aku yang sudah masuk kuliah semester 5 dan sedang berusaha mengadu nasib di PKN STAN sudah bertobat. Aku tidak merokok lagi dan kujauhi semua barang haram itu. Aku yakin ibu pasti tau kalau aku sudah menjadi pribadi lebih baik. Sekarang sudah saatnya aku berusaha untuk menjadi anak yang dia harapkan. Menjadi anak yang dia inginkan. Meski aku tau seburuk-buruknya nanti aku tetap akan menjadi anak ibu. Tapi aku harus tetap menjadi anak yang sebaik-baiknya seorang anak dari Ibu.
Aku akan gapai mimpiku bu! Aku akan membuatmu tersenyum! Aku takan membuatmu menangis lagi.
Semoga Ibu tau dengan apa yang sudah aku tulis hari ini. Sudah saatnya untukku berbakti. Aku akan berusaha!
Aku sayang MAMA!
dari Hamba Allah.
