Bagian 1: INSTINCT

Disuatu rumah kecil di daerah yang sangat dingin, Aliasian. Aku dan kakakku dibesarkan oleh Ibuku seorang diri, namanya Sarasvati. Ibu adalah orang yang kuat, kulitnya seputih salju dan rambutnya sangatlah lebat, begitu indah. Kesehariannya adalah pergi kepasar, ia selalu menggunakan sepatu boot dan rok panjang yang sama. Kadang ia memilih memakai salah satu dari beberapa kemeja yang telah lusuh, lalu jaket dan sarung tangan yang sangat tebal barulah dipakainya sebelum berpergian.
Ibuku adalah orang yang sangat cantik, diusianya yang sudah menginjak lebih dari empat puluhan, beliau masih terlihat seperti mamah muda. Aku sering melihat ke arah cermin, dan kadang aku berfikir kalo ibuku adalah malaikat.
Aku dan Ibuku sangatlah mirip. Aku merasa kita seperti seorang adik-kakak, padahal jarak umur kami adalah dua puluh tahun. Hanya saja, selera fashionku mungkin lebih modern dan lebih girly.
Sementara kakakku adalah laki-laki yang periang, ia sangat mudah tertawa dan sangat mudah menghibur orang yang ada disekitarnya. Kulitnya agak gelap, rambutnya hitam lebat dan ia sangat suka berada di dekat api. Umurnya hampir tujuh belas.
Setiap harinya ia berlatih keras untuk bertarung, ia melakukan hal itu sejak kami kehilangan ayah. Ia ingin pergi dari Aliasia, kemudian mencari petualanganya sendiri. Keinginan dan tekadnya untuk berpetualang, pasti adalah warisan yang ditinggalkan oleh ayah untuknya.
Ayah kami bernama Alitar, sampai sekarang kami masih belum mengetahui keberadaan beliau. Sepuluh tahun yang lalu beliau dikabarkan melalui Koran langit sebagai buronan. Melalui Koran langit, beliau dan krunya dikabarkan sebagai manusia pertama yang berhasil berhadapan langsung dengan Mahadewa di langit.
Kakakku ingin pergi dari Aliasia bukan untuk mencari ayahku, tapi ia ingin mencari kebenaran tentang Tuhannya. Saat sedang istirahat setelah berlatih, ia selalu bercerita padaku,
“Res, suatu saat aku Iki putra Alitar akan bertemu dengan Tuhanku. Sebelum itu kuhajar semua dewa itu karena pernah mengaku sebagai Tuhan yang esa.”
Hari ini dengan kemeja putih dengan corak kotak-kotak hitam, sweater beresleting dengan tutup kepala. Ia mencari ibuku.
“Mah, sudah tujuh belas tahun akun menetap di Aliasian. Aku ingin merasa lebih dekat dengan matahari. Bolehkah aku pergi mencari kota yang ada di langit?”
Ibuku pun menjawabnya dengan bijak,
“Pergilah nak, tapi jangan sekalipun engkau pergi dengan melupakan Tuhanmu. Berdoalah! Carilah ilmu dan pelajaran di setiap jalan yang kau tempuh! Makanlah makanan yang halal! Jangan sakiti orang-orang baik.”
“Iya bu,“ Iki menjawab dengan mata yang meneteskan air.
Aku pun tak kuasa, aku menangis.
Ibuku memberikan nasihat lagi pada kakakku,
“Ki, ketika kamu masuk ke lautan Dwipa Antara. Carilah Ismaya! Ia akan membantumu!”
“Siap bu,” jawab Iki.
Kemudian dengan bekal seadanya, Iki pergi berjalan menuju kota terdekat yang katanya memiliki pelabuhan, Ninesia.
Sebelum itu aku berbicara sesuatu pada Iki,
“Kak, apakah kamu akan baik-baik saja?”
“Tentu saja, akan ku beritahu sesuatu. Aku ini sangat kuat!” Jawabnya.
“Kamu sering mengatakan, ibu adalah malaikat bukan? Aku rasa kamu benar, aku rasa aku adalah anak malaikat.” Tambahnya.
“Lihat ini!” Iki menunjukan sesuatu padaku.
Ia membekukan tangannya dan kemudian memukulkannya ke tanah dengan gerakan yang pelan, tanah itu retak seketika.
“Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Ini adalah salah satu dari Mantra. Jika dipukulkan pada makhluk hidup, rasanya bisa dipakai untuk menyabut nyawa. Hahahaa” katanya.
“Yapp! Saatnya kakakmu pergi. Jaga dirimu baik-baik!” tambahnya, Ia pergi untuk pertama kalinya meninggalkan adik yang sangat menyayanginya.
Fyuhhh… Iki menghilang dari penglihatanku dengan cepat. Ia terlihat seperti butiran salju yang tertiup angin. Selama ini latihan yang ia jalani telah membuatnya sekuat itu.
Iki terus berjalan ke selatan, mencari kota Ninesia. Di tengah perjalanan kadang ia memakan bekalnya, kadang kala ia berfikir untuk memburu kambing atau yang lainya. Tapi Iki bukanlah ahli pedang yang bisa memotong kepala hewan tersebut.
Saat ia kehabisan perbekalan makanan dan belum menemukan Ninesia, ia pun kelaparan. Menurutnya menghajar hewan seperti kambing maupun rusa yang disebalahnya sangat mudah, tapi ia tidak bisa menyembelihnya agar dagingnya halal. Beruntung ia menemukan sungai, menggunakan matranya, Iki membekukan sedikit air, kemudian mengambil beberapa ikan. Lalu ia membakarnya.
Saat sedang memakan ikan ia berfikir lagi,
“Kalo aku berpetualangan sendiri, bakal bosan makan ikan terus nih. Aku harus mencari ahli pedang untuk menyembelih. Hahaha.” Gumamnya sendiri dengan makanannya.
Seorang bocah yang kelaparan diam-diam memandangi Iki. Bocah kecil itu berlari hendak mencuri makanan Iki, tetapi dengan cepat Iki membekukan langkah kaki Bocah itu dengan mantranya.
“Mantraa.. Hahahahhaaa, dasar bocah nakal! Kalo mau, kamu boleh mengambil sebanyak yang kamu mau,” Goda Iki pada bocah kecil itu.
“Namaku Velda! Aku tidak lapar!” Tegas bocah itu.
“ Lantas, kenapa kamu mencoba untuk mencurinya dariku?” Tanya Iki.
“Ini untuk paman di penjara. Ia tertangkap pasukan militer Ninesia karena menyelamatkan ibuku dari kemarahan dewa.” Jawabnya.
“Jadi ada juga yang berani menentang dewa disini, hahahhaaa.” Iki tertawa terbahak-bahak.
“Ia sangat kuat dan memiliki mantra pedang. Tapi besok paman akan dieksekusi.”  Velda bergumam kecil dalam isak tangisnya.
Iki sedikit tersendak saat memakan ikannya,
“Apa? Mantra pedang? Baiklah, Aku akan menolong pamanmu itu. Siapa namanya?” Tanya Iki.
“Ia adalah Aras si Pembunuh Berantai.” Velda menjawabnya.
“Yapp! Antarkan aku ke Ninesia! Ambil ikan sesukamu untuk pamanmu! Hahahaha!”
Iki menghentikan mantra yang membekukan bocah itu. Bocah itu memakan Ikan yang telah dibakar oleh Iki. Bocah itu kemudian menangis keras,
“Terimakasih paman! Ikan ini enak sekali!.”
“Panggil saja kakak! Hahahaa,” pinta Iki.
“Baik kak, aku akan mengantarkanmu ke Ninesia.”
Iki melanjutkan perjalanan ke Ninesia, tidak lama kemudian sebuah kota terlihat.
“Wah, ternyata dekat juga! Dimana penjaranya?” Tanya Iki.
“Sudah kak, jalan saja!” pinta Vilda.
“ARAAASSS!!!! ARASSSS!!!! Hehehehehee.” Panggil Iki.
Semua orang di Ninesia memandangi Iki, mereka terlihat bergumam satu sama lain.
“Kak! Bisa diem ga? Kakak sudah menarik perhatian banyak orang. Jika ada pihak militer yang tau kakak pasti juga akan diburu.” Jelas Velda.
“Hahahaahaa, baiklah. Lalalalalallaaaa… Lalalalallallalaa.” Jawab Iki sembari bernyanyi.
“Zzzzz… Apakah kakak benar-benar tidak bisa diam?” Tanya Velda.
“Hahaha, Lalalalalaaaa…” jawab Iki lagi.
Tak lama kemudian mereka berdua sampai di Penjara Ninesia.
“Wah gede juga ya, apakah penjagaannya ketat? Kamu tunggu disini yaa Vel!”
Iki pun mengambil ancang-ancang untuk berlari,
“Yappp! ARAASSSS!!!!!!” Ia melanjutkannya sembari berlari.
“Waaaaaa!! Benar-benar bodoh!” Velda panik.
Iki yang berlari itu langsung masuk melalui gerbang depan penjara. Sementara Velda menunggu diluar.
Tanpa pikir panjang Iki terus berteriak,
“ARASSS!! ARASSS!!!” Ia menghajar semua penjaga yang menghadangnya di Penjara.
Tinju dari tangan yang berlapis esnya telah membuat babak belur para penjaga.
“Berhenti!!” Pinta seorang prajurit dengan membawa pedang.
“Apa? Hahaha?” Iki yang mendengar kalimat itu berbalik arah dan menghajar habis-habisan Prajurit itu.
“Mungkin aku butuh pedang ini, hehe. Aku ambil yaa!” Pinta Iki.
Beberapa menit berselang kemudian, semua prajurit dan penjaga telah dikalahkannya. Iki mengambil semua kunci yang tergantung di dinding.
“Arass! Arass! Arass!” Iki memanggil si Pembunuh Berantai itu berkali-kali.
Beberapa saat setelah Ia melangkah cukup jauh, Iki mendengar sebuah jawaban.
“Hanya orang bodoh yang memanggil nama Arass, ditempat ini!” Jawab seseorang.
“Siapa kau?” Tanya iki.
“Pergilah! Disini hanya ada orang yang akan dieksekusi besok.”Jawab orang itu.
“Hahahahaa, apakah kamu Aras? Kamu terlihat buruk sekali. Pemilik mantra pedang yang tidak memiliki pedang?” Tanya Iki.
“Pergilah!” Pinta Orang itu.
“Yapp! Sudah kuputuskan! Kamu adalah kru pertamaku! Hahahaha.”
“Apa-apaan! Kamu tidak bisa memutuskan seenakmu!” Orang itu semakin mengelak.
“Aku kemari karena ingin membayar budi pada bocah yang mengantarkanku ke Ninesia. Hei, lihatlah! Aku memanggul beberapa pedang! Apa diantaranya ada milikmu? Bukankah pedang ini sangat berharga?” Tanya iki.
Orang itu kemudian melirik pedang yang dibawa Iki, ia melihat diantara beberapa pedang itu, terdapat pedang miliknya.
Orang itu menangis,
“Hwuhuu.. Pedang bermata kembar itu milikku! Hwuu.. Itu lebih berharga dari nyawaku! Aku ingin…”
“Hahaha. Sebenarnya Aku benci bertarung dengan seseorang dengan mantra pedang,” Jelas iki memotong pembicaraan.  “Karena itu kamu harus tetap hidup dengan membawa pedangmu!” Lanjutnya.
“Jika kamu bisa menjadi pemilik mantra pedang terkuat di dunia. Kenapa kamu tidak menerima tawaranku?” Tawar Iki sekali lagi.
Orang itu tetap menangis,
“Aku akan menjadi orang kuat. AKU BERSEDIAA!!” Jawab Aras.
“Hahahahahahaaa,” Iki tertawa.
Iki membuka jeruji, kemudian borgol yang ada pada sekitar lengan Aras.
Tiba-tiba Velda berlari kencang. Ia berteriak,
“Kaka pasukan militer dari Yava datang, aku melihat mereka datang menggunakan balon udara. Mereka bersama dewa Ninesia.”
“Tunggu dulu,” kata Aras.
“Apa lagi?” Tanya Velda.
Pppuurrr… Perutnya Aras berbunyi keras, “ Aku sangat lapar.”
“Hahahaahahaa, Velda lembarkan ikannya!” Pinta Iki pada Velda.
Tuingg.. Ikan itu ditangkap dengan cepat oleh Aras.
“Terimakasih, aku tidak tau harus membayar dengan apa nantinya,” kata Aras sembari memakan ikan bakar tadi.
“Hahaha, ayo pergi! Kamu Cuma perlu menyembelih satu ekor sapi nanti untuk kita berdua. Hahahaa.” Jawab Iki.
“Hei, apa kamu berniat untuk menjadikanku penyembelih sapi pribadimu?” kata Aras kesal.
Iki dan Aras kemudian membebaskan semua tahanan yang ada di penjara Ninesia untuk membantunya melawan pasukan dari Yava dan Dewa Ninesia. Aras dengan pedang bermata kembarnya mencoba memotong semua jeruji besi yang menghalanginya..
Para mantan tawanan penjara itu keluar dengan mengambil beberapa senjata penjaga penjara yang telah dikalahkan oleh Iki. Beberapa penjaga penjara sebelumnya terlihat pucat dan setengah membeku.
“Hey, apa ini ulahmu? Apakah ini mantramu?” Tanya Aras pada Iki.
“Hahahahaa, ini baru sebagian kecil dari mantraku” Jawabnya.
“Dari penampilan bodohmu itu, ternyata kamu memiliki mantra yang kuat. Sialan! Aku juga akan berlatih lebih kuat lagi!” Terang Aras.
“Hahahahaa.” Iki tertawa lagi.
Iki, Aras dan beberapa mantan tawanan akhirnya berhasil keluar penjara. Disaat mereka sedang merasakan kebebasannya, didepannya sudah ada pasukan Yava yang mengepung. Disana juga ada Dewa Ninesia.
Dewa Ninesia terlihat berpostur tinggi sekitar dua meter, tubuhnya pun terlihat kekar. Ia memiliki sayap berwarna putih, seragamnya pun berwarna putih khas sebagaimana dewa. Di bahu kirinya ada 1 pangkat berbentuk bintang, menunjukan bahwa ia adalah dewa dengan status letnan di kerajaan. Rambut dikepalanya hampir tidak ada, tetapi dibawah dagunya, tumbuh rambut yang lebat.
“Siapa orang tua berjenggot tebal itu? Hahahaa.” Tanya Iki.
“Itu adalah Deddie, Dewa Ninesia. Seluruh rakyat di Ninesia selalu memberikan sesaji untuknya setiap malam jumat.” Jawab Aras.
“Apa ia hebat?” Tanya Iki lagi.
“Ia bisa mengendalikan salah satu mantra super, elemennya tanah. Kekuatannya tidak bisa diragukan, kamu bisa melihat dari pangkat yang ada di bahunya. Sial ia mengalahkanku!” Terang Aras.
“Yapp! Sudah kuputuskan, aku akan menghajarnya. Kamu hajar saja semua orang yang menghalangiku! Hahaha” Pinta Iki.
“Baiklah” Jawab Aras.
“Mantraaaa…” Teriak Iki dan Aras bersamaa, mereka mulai mengaktifkan mantranya. Aura mantra mereka terlihat melalui pentagram kecil yang ada tebat dibawah kakinya, menggantikan bayangan.
“Huahahahaa.. Sepertinya dua pengguna mantra super ada disini. Pengguna mantra pedang yang sudah kubuat babak belur ingin menantangku lagi?” Tanya Deddie.
“Ahh, sial! Aku belum cukup kuat” Gumam Aras dalam hati.
“Hei! Aku baru saja memutuskan untuk menghajarmu!” Terang Iki.
“Huahahahaa.. Berani sekali kau! Aku adalah murid dari seorang Mahadewa Bumi, Goji Yavana Rama. Mantraku akan meremukan tulangmu sebelum kau menyentuhku!” Jelas Deddie pada Iki.
“Baiklah.. Yap! Increase speed! Akan kutarik jenggotmu!” Kaki Iki mulai terlihat membeku, membentuk sebuah sepatu. Tubuhnya pun mengeluarkan asap putih, seperti sebuah mesin yang meningkatkan kecepatan sebelum berlari.
Tanpa pikir panjang, Iki langsung menuju Deddie, Dewa Ninesia. Beberapa pasukan militer Yava mencoba menghalanginya dengan mantra pedang. Beberapa pedang terlihat akan memotongnya, tapi dengan sigap Aras berhasil mengcover pergerakan Iki.
“Aku kira dengan celana jeans hitam ketat bodohmu itu, kamu tidak bisa bergerak cepat. Bagaimana bisa kamu bergerak secepat ini?” Tanya Aras sembari berlari mendekat.
Iki tersenyum,
“Kamu juga hebat bisa mengimbangiku. Hahahaa.” Puji Iki.
“Maju duluan Ky! Aku akan mengurus para pengguna mantra pedang bodoh ini.” Kata Aras berhenti, sembari menghalangi para pengguna mantra pedang.
Iki yang semakin dekat dengan Deddie mulai membekukan tangan kanannya.
“ICE HITT!!” Teriak Iki dibarengi dengan lompatan kuatnya, Iki langsung memukul wajah Deddie dengan tangannya.
Serentak, Deddie langsung terlempar jauh ke belakang hingga manabrak rumah warga. Deddie memuntahkan darah, ia meludah ke samping.
“Huahahahahaa.. Salam perkenalan yang luar biasa. Aku kira cara bertarung kita sama, Mantraa..” Puji Deddie yang menyiapkan serangan balasan.
Beberapa tanah dibawah Dewa Ninesia itu terlihat terbang dan menempel pada tangannya. Tanah itu menggumpal, memadat, kemudian menjadi semakin besar.
Iki menyusul arah pukulanya tadi, Ia berlari kencang kearah Deddy.
Deddy berteriak, “EARTTHH!! QUAKKE!!” Dilemparkanya gumpalan tanah itu kearah Iki yang berlari kencang.
Iki memaksakan dirinya untuk terus maju. Tetapi, gumpalan Earth Quake dari Deddie tidak bisa ia lewati. Gumpalan tanah itu mengenai iki dengan kencangya, kemudian Iki terlempar kebelakang. Ia terjatuh dengan gerakan yang baik. Tetapi, tiba-tiba dia langsung kesakitan.
“Arggghh… Sakit sekaliii!!” Iki berteriak lagi sembari memegangi kepalanya yang kesakitan.
“Huahahaha…” Dewa Ninesia kembali tertawa.
“Sial! sakit sekali, Mantraaa…” Iki tiba-tiba terlihat menghilang dari jarak pandang Deddie.
Bbruaakkk!! Sebuah tangan besar yang terbuat dari es menghantam Deddie dari atas.
“Big Ice Hit.” Iki menambah kecepatan tinjunya kebawah. Tanah yang Deddie pijaki serentak ambruk, membentuk sebuah retakan hasil beban dari pukulan yang kuat. Tangan es yang cukup besar itu pun ikut hancur.
“Sial! Aku tidak bisa melihatnya, cepat sekali” Gumam Deddie dalam hatinya.
“Combo, ice hit!!” Pukulan bertubi-tubi dilanjutkan Iki mengarah ke dada Dewa Ninesia itu.
Deddie mencoba bertahan, dia berhasil memegang salah satu tangan Iki yang dingin itu.
“Sial aku tertangkap. Lepaskan aku!! Lepaskan!” Iki mulai mengeluh.
“Aku tidak menyangka aku mengalami sedikit masalah disini, akan ku hajar langsung dengan serangan Ultimateku.” Jelas Deddie.
Iki dihantamkan ke tanah, kemudian tanah-tanah itu menggumpal, memadat keras pada tubuh Iki. Iki tergeletak, pergerakannya terkunci.
Di tengah-tengah pertarungannya, Aras melihat Iki yang tergeletak.
Ia bergumam kecil dalam hatinya,
“Sial! Itu serangan yang mengakhiriku.”
Deddie terbang tinggi kelangit menggunakan sayapnya. Seluruh tanah ikut mengiringnya terbang. Tanah itu lalu menggumpal pada seluruh tubuhnya, kemudian memadat dan semakin besar.
“Ultimate Earth!! METEORR!!” Teriak Deddy dari langit.
Gumpalan berbentuk bulat itu jatuh dari langit dengan sangat cepat, semua orang melirik kearah gumpalan itu. Selama beberapa saat pasukan Yava yang bentrok dengan mantan tawanan penjara pun berhenti bertarung, mereka tertarik untuk melihat serangan besar.
Aras yang melihat hal itu berteriak,
“Ky, Menghindarrr!!”
“Haha,” Iki menoleh pada Aras dengan senyum kecilnya.
Gumpalan itu serentak menghancurkan semua yang ada dibawahnya, retakan besar tercipta ditanah. Beberapa fasilitas umum, termasuk rumah warga yang berada didekat gumpalan itu pun ikut rusak.
Deddie yang kelelahan kemudian keluar dari gumpalan tersebut.
“Huahahahaha. Tidak ada yang bisa bangkit setelah serangan ini. Pengguna mantra es ini pasti sudah K.O!” Tegas Deddie berkata kepada orang yang melihat kearahnya.
Beberapa tawanan yang baru saja bisa kabur terlihat kecewa, ia mulai pesimis untuk bisa selamat dari pasukan Yava.
Aras menjatuhkan pedangnya,
“Siaall!” katanya.
Tiba-tiba ada sedikit gerakan dari tanah. Beberapa balok berbentuk seperti potongan kayu mencuat dari dalam tanah.
“Hahahahaa… Hebat sekali!! Hahaha.” Suara tawa dari bawah tanah pun mulai terdengar.
“Suara apa itu?” Tanya beberapa orang.
Deddie terlihat panik. Ia berencana untuk kabur menggunakan sayapnya.Tetapi tiba-tiba muncul hujan es dari langit yang menghambat laju terbangnya.
Iki muncul dari bawah tanah, Ia langsung berlari kencang kearah Deddie.
“Baiklah akan ku akhiri. Yapp!! Ultimate Ice!!” Kata Iki dengan mengepalkan tangannya.
Hujan es itu kemudian menjadi semakin cepat. Deddie terjatuh, kemudian hujan es itu membuat mengunci tubuh Deddie. Deddie terlihat lemas, ia pasrah.
Disaat yang bersamaan, Iki memanjangkan es yang menyelimuti kepalan tangannya ke depan.
“Raining Forst!” katanya.
Bbreakkkkk!!! Sebuah bongkahan yang bergabung dengan tinju Iki tepat mengenai perut Deddie. Bongkahan es itu bahkan sampai mencuat keluar dari punggunya, bersamaan dengan darah yang keluar dari tubuh.
Dewa Ninesia kalah! Iki berhasil membebaskan bangsa Ninesia dari perbudakan dan penjajahan salah satu Dewa. Aras pun banggit ia langsung menggunakan Ultimate mantranya.
“Ultimate Sword” kata Aras sembari memasukan pedangnya dalam selongsong di lengan kirinya. Dia bergerak dengan cepat.
“Fast Cut!” Aras mengatakannya setelah berbindah tempat.
Pedangnya terlihat sudah tidak di selongsongnya lagi. Saat ia memasukan pedang ke selongsong untuk yang kedua kali, para pasukan militer dari Yava terlihat sudah memiliki bekas sayatan pedang yang dalam. Beberapa pasukan militer Yava jatuh.
Beberapa mantan tawanan dalam penjara semakin bersemangat, mereka pun terlihat lebih hebat. Semua pasukan dari Yava yang tersisa pun mundur.
Ninesia menjadi aman, Deddy berhasil di jebloskan ke penjaranya sendiri. Status dewanya sudah pasti akan dicopot oleh kerajaan langit.
Walikota menyebarkan berita pada semua warganya untuk berkumpul di Alun-alun kota. Para tawanan yang keluar, kembali bertemu dengan keluarganya masing-masing di Alun-alun Ninesia. Mereka menangis, isak haru dan lautan yang darah pengorbanan warga ninesia yang berdarah-darah tidaklah sia-sia. Begitu juga dengan isak tangis bocah kecil bernama Velda itu.
Semua masyarakat Ninesia menyambut hangat Iki dan yang lainnya, termasuk beberapa tawanan  yang berasal dari luar Ninesia. Warga Ninesia sangat berterimakasih sekali pada Iki. Kedatangan Iki memang telah membawa dampak positif untuk Ninesia. Walikota Ninesia pun turut berterimakasih pada Iki, beliau membawakan jamuan untuk Iki.
“Silahkan dinikmati persembahan dari kami untuk para pahlawan. Kami tidak perlu membuat sesaji lagi, makanlah sepuasnya!”
Warga Ninesia pun bahagia bersama, menikmati rasa syukur mereka atas apa yang telah diberikan Tuhan melalui Iki.
Di tengah-tengah pesta tersebut, Iki menanyakan sesuatu pada walikota.
“Maaf om! Hehe.. Dimana pelabuhannya yaa? Aku harus segera pergi ke lautan Dwipa Antara.” Tanya Iki santai.
“Dwipa Antara?” Serentah Walikota itu kaget mendengar nama laut itu. “Maafkan saya tuan, kota ini hanya memiliki satu pelabuhan kecil. Tidak ada kapal besar, hanya ada perahu kecil milik nelayan.”
“Tidak masalah. Perahu kecil itu bisa mengantarkanku ke Dwipa Antara kan?” Tanya Iki.
“Maafkan kami, ombak di samudra Dwipa Antara sangatlah kuat. Perahu kecil kami bisa hancur berkeping-keping. Itu akan membahayakan kamu tuanku.” Jawab Walikota itu.
“Hahahaa,  apa ada saran om?” Tanya Iki lagi.
“Kamu bisa mengambil petualangan di darat dulu menuju ke barat. Ada kota besar yang memiliki pelabuhan, kota Delhind.” Jelas Walikota.
“Tapi saya rasa kalian sudah menjadi kriminal, dewa pasti mulai memburumu. Delhind adalah kota favorit raja Rama Yavana ke lima, penjagaannya sangat ketat. Puluhan dewa dengan mantra super bisa kalian temui disana, sekali lagi maafkan kami.” Lanjut walikota.
“Lalu kenapa?” Tanya Aras pada walikota dengan nada agak tinggi.
“Maafkan saya, saya tahu kalian kuat. Mantra super yang kalian miliki bisa memenangankan pertarungan. Tetapi mantra Mahadewa hampir seratus kali lebih kuat dari mantra biasa. Satu atau dua Mahadewa pasti ada disana, mereka adalah keturunan langsung dari sang Rama.” Terang walikota.
“Hahahahaha, tidak masalah. Kalau begitu akan kuhindari Delhind. Om walikota, adakah kota lain yang memiliki pelabuhan besar lainnya?” Tanya Iki lagi.
“Ada, Yuvi. Tempat berkumpulnya para kriminal. Tempat ini tidak kalah bahayanya dari Delhind, tapi kurasa mantra kalian berada dilevel yang sama.” Jawab walikota.
“Baiklah om, antar kami kesana!” Pinta Iki, yang tertarik.
“Menarik sekali, berlatih dan mencoba bertarung dengan musuh dengan level yang sama akan menarik.” Kata Aras menambahkan.
“Baiklah, tapi maafkan saya. Tempatnya terlalu jauh. Saya hanya bisa mengantar kalian dengan kereta dari Ninesia sampai daerah Tursina, selanjutnya kalian bisa menelusuri bukit Tursina untuk mencapai Yuvi.” Jawab walikota.
“Itu sudah cukup, om! Terimakasih!” kata Iki.
“Terimakasih pak walikota.” Ucap Aras mengikuti bos barunya.
“Maaf jika saya lancang, sebenarnya apa tujuan tuan Iki datang kemari?” Tanya walikota.
“Mencari pelabuhan,” jawab Iki.
“Lantas, apa yang membuatmu menyelamatkan kota ini?” Tanya walikota lagi.
“Hmmm, apa ya?” Iki kebingungan. “Aku rasa ini naluriku. Ahhaha,” Jawab Iki tertawa,
Pesta pun selesai.
Malam ini, warga kota Ninesia tidur nyenyak. Iki dan Aras yang mengantuk terpaksa masih harus menunggu kereta bersama walikota di stasiun. Kereta itu memiliki tiga jalur, Ninesia, Tursina dan Delhind.

Walikota Ninesia tersenyum melihat tingkah Iki dan Aras yang terlihat setengah tertidur. Ia sangat bersyukur karena bertemu bocah yang memiliki insting untuk menyelamatkan seseorang.

Postingan terkait: