Disuatu rumah kecil di
daerah yang sangat dingin, Aliasian. Aku dan kakakku dibesarkan oleh Ibuku
seorang diri, namanya Sarasvati. Ibu adalah orang yang kuat, kulitnya seputih
salju dan rambutnya sangatlah lebat, begitu indah. Kesehariannya adalah pergi
kepasar, ia selalu menggunakan sepatu boot dan rok panjang yang sama. Kadang ia
memilih memakai salah satu dari beberapa kemeja yang telah lusuh, lalu jaket
dan sarung tangan yang sangat tebal barulah dipakainya sebelum berpergian.
Ibuku adalah orang yang
sangat cantik, diusianya yang sudah menginjak lebih dari empat puluhan, beliau
masih terlihat seperti mamah muda. Aku sering melihat ke arah cermin, dan
kadang aku berfikir kalo ibuku adalah malaikat.
Aku dan Ibuku sangatlah
mirip. Aku merasa kita seperti seorang adik-kakak, padahal jarak umur kami
adalah dua puluh tahun. Hanya saja, selera fashionku mungkin lebih modern dan
lebih girly.
Sementara kakakku
adalah laki-laki yang periang, ia sangat mudah tertawa dan sangat mudah
menghibur orang yang ada disekitarnya. Kulitnya agak gelap, rambutnya hitam
lebat dan ia sangat suka berada di dekat api. Umurnya hampir tujuh belas.
Setiap harinya ia
berlatih keras untuk bertarung, ia melakukan hal itu sejak kami kehilangan ayah.
Ia ingin pergi dari Aliasia, kemudian mencari petualanganya sendiri. Keinginan
dan tekadnya untuk berpetualang, pasti adalah warisan yang ditinggalkan oleh
ayah untuknya.
Ayah kami bernama
Alitar, sampai sekarang kami masih belum mengetahui keberadaan beliau. Sepuluh
tahun yang lalu beliau dikabarkan melalui Koran langit sebagai buronan. Melalui
Koran langit, beliau dan krunya dikabarkan sebagai manusia pertama yang berhasil
berhadapan langsung dengan Mahadewa di langit.
Kakakku ingin pergi
dari Aliasia bukan untuk mencari ayahku, tapi ia ingin mencari kebenaran
tentang Tuhannya. Saat sedang istirahat setelah berlatih, ia selalu bercerita
padaku,
“Res, suatu saat aku
Iki putra Alitar akan bertemu dengan Tuhanku. Sebelum itu kuhajar semua dewa
itu karena pernah mengaku sebagai Tuhan yang esa.”
Hari ini dengan kemeja
putih dengan corak kotak-kotak hitam, sweater beresleting dengan tutup kepala. Ia
mencari ibuku.
“Mah, sudah tujuh belas
tahun akun menetap di Aliasian. Aku ingin merasa lebih dekat dengan matahari.
Bolehkah aku pergi mencari kota yang ada di langit?”
Ibuku pun menjawabnya
dengan bijak,
“Pergilah nak, tapi
jangan sekalipun engkau pergi dengan melupakan Tuhanmu. Berdoalah! Carilah ilmu
dan pelajaran di setiap jalan yang kau tempuh! Makanlah makanan yang halal!
Jangan sakiti orang-orang baik.”
“Iya bu,“ Iki menjawab
dengan mata yang meneteskan air.
Aku pun tak kuasa, aku
menangis.
Ibuku memberikan
nasihat lagi pada kakakku,
“Ki, ketika kamu masuk
ke lautan Dwipa Antara. Carilah Ismaya! Ia akan membantumu!”
“Siap bu,” jawab Iki.
Kemudian dengan bekal
seadanya, Iki pergi berjalan menuju kota terdekat yang katanya memiliki
pelabuhan, Ninesia.
Sebelum itu aku
berbicara sesuatu pada Iki,
“Kak, apakah kamu akan
baik-baik saja?”
“Tentu saja, akan ku
beritahu sesuatu. Aku ini sangat kuat!” Jawabnya.
“Kamu sering
mengatakan, ibu adalah malaikat bukan? Aku rasa kamu benar, aku rasa aku adalah
anak malaikat.” Tambahnya.
“Lihat ini!” Iki
menunjukan sesuatu padaku.
Ia membekukan tangannya
dan kemudian memukulkannya ke tanah dengan gerakan yang pelan, tanah itu retak
seketika.
“Apa yang terjadi?”
tanyaku.
“Ini adalah salah satu dari
Mantra. Jika dipukulkan pada makhluk hidup, rasanya bisa dipakai untuk menyabut
nyawa. Hahahaa” katanya.
“Yapp! Saatnya kakakmu
pergi. Jaga dirimu baik-baik!” tambahnya, Ia pergi untuk pertama kalinya
meninggalkan adik yang sangat menyayanginya.
Fyuhhh… Iki menghilang
dari penglihatanku dengan cepat. Ia terlihat seperti butiran salju yang tertiup
angin. Selama ini latihan yang ia jalani telah membuatnya sekuat itu.
Iki terus berjalan ke
selatan, mencari kota Ninesia. Di tengah perjalanan kadang ia memakan bekalnya,
kadang kala ia berfikir untuk memburu kambing atau yang lainya. Tapi Iki
bukanlah ahli pedang yang bisa memotong kepala hewan tersebut.
Saat ia kehabisan
perbekalan makanan dan belum menemukan Ninesia, ia pun kelaparan. Menurutnya
menghajar hewan seperti kambing maupun rusa yang disebalahnya sangat mudah,
tapi ia tidak bisa menyembelihnya agar dagingnya halal. Beruntung ia menemukan
sungai, menggunakan matranya, Iki membekukan sedikit air, kemudian mengambil
beberapa ikan. Lalu ia membakarnya.
Saat sedang memakan
ikan ia berfikir lagi,
“Kalo aku
berpetualangan sendiri, bakal bosan makan ikan terus nih. Aku harus mencari
ahli pedang untuk menyembelih. Hahaha.” Gumamnya sendiri dengan makanannya.
Seorang bocah yang
kelaparan diam-diam memandangi Iki. Bocah kecil itu berlari hendak mencuri
makanan Iki, tetapi dengan cepat Iki membekukan langkah kaki Bocah itu dengan
mantranya.
“Mantraa.. Hahahahhaaa,
dasar bocah nakal! Kalo mau, kamu boleh mengambil sebanyak yang kamu mau,” Goda
Iki pada bocah kecil itu.
“Namaku Velda! Aku
tidak lapar!” Tegas bocah itu.
“ Lantas, kenapa kamu
mencoba untuk mencurinya dariku?” Tanya Iki.
“Ini untuk paman di
penjara. Ia tertangkap pasukan militer Ninesia karena menyelamatkan ibuku dari
kemarahan dewa.” Jawabnya.
“Jadi ada juga yang
berani menentang dewa disini, hahahhaaa.” Iki tertawa terbahak-bahak.
“Ia sangat kuat dan
memiliki mantra pedang. Tapi besok paman akan dieksekusi.” Velda bergumam kecil dalam isak tangisnya.
Iki sedikit tersendak
saat memakan ikannya,
“Apa? Mantra pedang? Baiklah,
Aku akan menolong pamanmu itu. Siapa namanya?” Tanya Iki.
“Ia adalah Aras si
Pembunuh Berantai.” Velda menjawabnya.
“Yapp! Antarkan aku ke
Ninesia! Ambil ikan sesukamu untuk pamanmu! Hahahaha!”
Iki menghentikan mantra
yang membekukan bocah itu. Bocah itu memakan Ikan yang telah dibakar oleh Iki.
Bocah itu kemudian menangis keras,
“Terimakasih paman!
Ikan ini enak sekali!.”
“Panggil saja kakak! Hahahaa,” pinta Iki.
“Panggil saja kakak! Hahahaa,” pinta Iki.
“Baik kak, aku akan
mengantarkanmu ke Ninesia.”
Iki melanjutkan
perjalanan ke Ninesia, tidak lama kemudian sebuah kota terlihat.
“Wah, ternyata dekat
juga! Dimana penjaranya?” Tanya Iki.
“Sudah kak, jalan
saja!” pinta Vilda.
“ARAAASSS!!!!
ARASSSS!!!! Hehehehehee.” Panggil Iki.
Semua orang di Ninesia
memandangi Iki, mereka terlihat bergumam satu sama lain.
“Kak! Bisa diem ga?
Kakak sudah menarik perhatian banyak orang. Jika ada pihak militer yang tau
kakak pasti juga akan diburu.” Jelas Velda.
“Hahahaahaa, baiklah.
Lalalalalallaaaa… Lalalalallallalaa.” Jawab Iki sembari bernyanyi.
“Zzzzz… Apakah kakak
benar-benar tidak bisa diam?” Tanya Velda.
“Hahaha, Lalalalalaaaa…”
jawab Iki lagi.
Tak lama kemudian
mereka berdua sampai di Penjara Ninesia.
“Wah gede juga ya,
apakah penjagaannya ketat? Kamu tunggu disini yaa Vel!”
Iki pun mengambil
ancang-ancang untuk berlari,
“Yappp! ARAASSSS!!!!!!”
Ia melanjutkannya sembari berlari.
“Waaaaaa!! Benar-benar
bodoh!” Velda panik.
Iki yang berlari itu
langsung masuk melalui gerbang depan penjara. Sementara Velda menunggu diluar.
Tanpa pikir panjang Iki
terus berteriak,
“ARASSS!! ARASSS!!!” Ia
menghajar semua penjaga yang menghadangnya di Penjara.
Tinju dari tangan yang
berlapis esnya telah membuat babak belur para penjaga.
“Berhenti!!” Pinta
seorang prajurit dengan membawa pedang.
“Apa? Hahaha?” Iki yang
mendengar kalimat itu berbalik arah dan menghajar habis-habisan Prajurit itu.
“Mungkin aku butuh
pedang ini, hehe. Aku ambil yaa!” Pinta Iki.
Beberapa menit
berselang kemudian, semua prajurit dan penjaga telah dikalahkannya. Iki
mengambil semua kunci yang tergantung di dinding.
“Arass! Arass! Arass!”
Iki memanggil si Pembunuh Berantai itu berkali-kali.
Beberapa saat setelah
Ia melangkah cukup jauh, Iki mendengar sebuah jawaban.
“Hanya orang bodoh yang
memanggil nama Arass, ditempat ini!” Jawab seseorang.
“Siapa kau?” Tanya iki.
“Pergilah! Disini hanya
ada orang yang akan dieksekusi besok.”Jawab orang itu.
“Hahahahaa, apakah kamu
Aras? Kamu terlihat buruk sekali. Pemilik mantra pedang yang tidak memiliki
pedang?” Tanya Iki.
“Pergilah!” Pinta Orang
itu.
“Yapp! Sudah
kuputuskan! Kamu adalah kru pertamaku! Hahahaha.”
“Apa-apaan! Kamu tidak
bisa memutuskan seenakmu!” Orang itu semakin mengelak.
“Aku kemari karena
ingin membayar budi pada bocah yang mengantarkanku ke Ninesia. Hei, lihatlah!
Aku memanggul beberapa pedang! Apa diantaranya ada milikmu? Bukankah pedang ini
sangat berharga?” Tanya iki.
Orang itu kemudian
melirik pedang yang dibawa Iki, ia melihat diantara beberapa pedang itu,
terdapat pedang miliknya.
Orang itu menangis,
“Hwuhuu.. Pedang
bermata kembar itu milikku! Hwuu.. Itu lebih berharga dari nyawaku! Aku ingin…”
“Hahaha. Sebenarnya Aku
benci bertarung dengan seseorang dengan mantra pedang,” Jelas iki memotong
pembicaraan. “Karena itu kamu harus
tetap hidup dengan membawa pedangmu!” Lanjutnya.
“Jika kamu bisa menjadi
pemilik mantra pedang terkuat di dunia. Kenapa kamu tidak menerima tawaranku?”
Tawar Iki sekali lagi.
Orang itu tetap
menangis,
“Aku akan menjadi orang
kuat. AKU BERSEDIAA!!” Jawab Aras.
“Hahahahahahaaa,” Iki
tertawa.
Iki membuka jeruji, kemudian
borgol yang ada pada sekitar lengan Aras.
Tiba-tiba Velda berlari
kencang. Ia berteriak,
“Kaka pasukan militer
dari Yava datang, aku melihat mereka datang menggunakan balon udara. Mereka
bersama dewa Ninesia.”
“Tunggu dulu,” kata
Aras.
“Apa lagi?” Tanya Velda.
Pppuurrr… Perutnya Aras
berbunyi keras, “ Aku sangat lapar.”
“Hahahaahahaa, Velda
lembarkan ikannya!” Pinta Iki pada Velda.
Tuingg.. Ikan itu
ditangkap dengan cepat oleh Aras.
“Terimakasih, aku tidak
tau harus membayar dengan apa nantinya,” kata Aras sembari memakan ikan bakar
tadi.
“Hahaha, ayo pergi!
Kamu Cuma perlu menyembelih satu ekor sapi nanti untuk kita berdua. Hahahaa.”
Jawab Iki.
“Hei, apa kamu berniat
untuk menjadikanku penyembelih sapi pribadimu?” kata Aras kesal.
Iki dan Aras kemudian
membebaskan semua tahanan yang ada di penjara Ninesia untuk membantunya melawan
pasukan dari Yava dan Dewa Ninesia. Aras dengan pedang bermata kembarnya
mencoba memotong semua jeruji besi yang menghalanginya..
Para mantan tawanan
penjara itu keluar dengan mengambil beberapa senjata penjaga penjara yang telah
dikalahkan oleh Iki. Beberapa penjaga penjara sebelumnya terlihat pucat dan
setengah membeku.
“Hey, apa ini ulahmu?
Apakah ini mantramu?” Tanya Aras pada Iki.
“Hahahahaa, ini baru
sebagian kecil dari mantraku” Jawabnya.
“Dari penampilan
bodohmu itu, ternyata kamu memiliki mantra yang kuat. Sialan! Aku juga akan
berlatih lebih kuat lagi!” Terang Aras.
“Hahahahaa.” Iki
tertawa lagi.
Iki, Aras dan beberapa
mantan tawanan akhirnya berhasil keluar penjara. Disaat mereka sedang merasakan
kebebasannya, didepannya sudah ada pasukan Yava yang mengepung. Disana juga ada
Dewa Ninesia.
Dewa Ninesia terlihat
berpostur tinggi sekitar dua meter, tubuhnya pun terlihat kekar. Ia memiliki
sayap berwarna putih, seragamnya pun berwarna putih khas sebagaimana dewa. Di
bahu kirinya ada 1 pangkat berbentuk bintang, menunjukan bahwa ia adalah dewa
dengan status letnan di kerajaan. Rambut dikepalanya hampir tidak ada, tetapi
dibawah dagunya, tumbuh rambut yang lebat.
“Siapa orang tua
berjenggot tebal itu? Hahahaa.” Tanya Iki.
“Itu adalah Deddie,
Dewa Ninesia. Seluruh rakyat di Ninesia selalu memberikan sesaji untuknya
setiap malam jumat.” Jawab Aras.
“Apa ia hebat?” Tanya
Iki lagi.
“Ia bisa mengendalikan
salah satu mantra super, elemennya tanah. Kekuatannya tidak bisa diragukan,
kamu bisa melihat dari pangkat yang ada di bahunya. Sial ia mengalahkanku!”
Terang Aras.
“Yapp! Sudah
kuputuskan, aku akan menghajarnya. Kamu hajar saja semua orang yang menghalangiku!
Hahaha” Pinta Iki.
“Baiklah” Jawab Aras.
“Mantraaaa…” Teriak Iki
dan Aras bersamaa, mereka mulai mengaktifkan mantranya. Aura mantra mereka
terlihat melalui pentagram kecil yang ada tebat dibawah kakinya, menggantikan
bayangan.
“Huahahahaa..
Sepertinya dua pengguna mantra super ada disini. Pengguna mantra pedang yang
sudah kubuat babak belur ingin menantangku lagi?” Tanya Deddie.
“Ahh, sial! Aku belum
cukup kuat” Gumam Aras dalam hati.
“Hei! Aku baru saja
memutuskan untuk menghajarmu!” Terang Iki.
“Huahahahaa.. Berani
sekali kau! Aku adalah murid dari seorang Mahadewa Bumi, Goji Yavana Rama.
Mantraku akan meremukan tulangmu sebelum kau menyentuhku!” Jelas Deddie pada
Iki.
“Baiklah.. Yap!
Increase speed! Akan kutarik jenggotmu!” Kaki Iki mulai terlihat membeku,
membentuk sebuah sepatu. Tubuhnya pun mengeluarkan asap putih, seperti sebuah
mesin yang meningkatkan kecepatan sebelum berlari.
Tanpa pikir panjang, Iki
langsung menuju Deddie, Dewa Ninesia. Beberapa pasukan militer Yava mencoba
menghalanginya dengan mantra pedang. Beberapa pedang terlihat akan memotongnya,
tapi dengan sigap Aras berhasil mengcover pergerakan Iki.
“Aku kira dengan celana
jeans hitam ketat bodohmu itu, kamu tidak bisa bergerak cepat. Bagaimana bisa
kamu bergerak secepat ini?” Tanya Aras sembari berlari mendekat.
Iki tersenyum,
“Kamu juga hebat bisa
mengimbangiku. Hahahaa.” Puji Iki.
“Maju duluan Ky! Aku
akan mengurus para pengguna mantra pedang bodoh ini.” Kata Aras berhenti, sembari
menghalangi para pengguna mantra pedang.
Iki yang semakin dekat
dengan Deddie mulai membekukan tangan kanannya.
“ICE HITT!!” Teriak Iki
dibarengi dengan lompatan kuatnya, Iki langsung memukul wajah Deddie dengan
tangannya.
Serentak, Deddie
langsung terlempar jauh ke belakang hingga manabrak rumah warga. Deddie
memuntahkan darah, ia meludah ke samping.
“Huahahahahaa.. Salam
perkenalan yang luar biasa. Aku kira cara bertarung kita sama, Mantraa..” Puji
Deddie yang menyiapkan serangan balasan.
Beberapa tanah dibawah
Dewa Ninesia itu terlihat terbang dan menempel pada tangannya. Tanah itu
menggumpal, memadat, kemudian menjadi semakin besar.
Iki menyusul arah
pukulanya tadi, Ia berlari kencang kearah Deddy.
Deddy berteriak,
“EARTTHH!! QUAKKE!!” Dilemparkanya gumpalan tanah itu kearah Iki yang berlari
kencang.
Iki memaksakan dirinya
untuk terus maju. Tetapi, gumpalan Earth Quake dari Deddie tidak bisa ia
lewati. Gumpalan tanah itu mengenai iki dengan kencangya, kemudian Iki
terlempar kebelakang. Ia terjatuh dengan gerakan yang baik. Tetapi, tiba-tiba
dia langsung kesakitan.
“Arggghh… Sakit
sekaliii!!” Iki berteriak lagi sembari memegangi kepalanya yang kesakitan.
“Huahahaha…” Dewa
Ninesia kembali tertawa.
“Sial! sakit sekali, Mantraaa…”
Iki tiba-tiba terlihat menghilang dari jarak pandang Deddie.
Bbruaakkk!! Sebuah
tangan besar yang terbuat dari es menghantam Deddie dari atas.
“Big Ice Hit.” Iki
menambah kecepatan tinjunya kebawah. Tanah yang Deddie pijaki serentak ambruk,
membentuk sebuah retakan hasil beban dari pukulan yang kuat. Tangan es yang
cukup besar itu pun ikut hancur.
“Sial! Aku tidak bisa
melihatnya, cepat sekali” Gumam Deddie dalam hatinya.
“Combo, ice hit!!”
Pukulan bertubi-tubi dilanjutkan Iki mengarah ke dada Dewa Ninesia itu.
Deddie mencoba
bertahan, dia berhasil memegang salah satu tangan Iki yang dingin itu.
“Sial aku tertangkap.
Lepaskan aku!! Lepaskan!” Iki mulai mengeluh.
“Aku tidak menyangka
aku mengalami sedikit masalah disini, akan ku hajar langsung dengan serangan
Ultimateku.” Jelas Deddie.
Iki dihantamkan ke
tanah, kemudian tanah-tanah itu menggumpal, memadat keras pada tubuh Iki. Iki
tergeletak, pergerakannya terkunci.
Di tengah-tengah
pertarungannya, Aras melihat Iki yang tergeletak.
Ia bergumam kecil dalam
hatinya,
“Sial! Itu serangan yang
mengakhiriku.”
Deddie terbang tinggi
kelangit menggunakan sayapnya. Seluruh tanah ikut mengiringnya terbang. Tanah
itu lalu menggumpal pada seluruh tubuhnya, kemudian memadat dan semakin besar.
“Ultimate Earth!!
METEORR!!” Teriak Deddy dari langit.
Gumpalan berbentuk
bulat itu jatuh dari langit dengan sangat cepat, semua orang melirik kearah
gumpalan itu. Selama beberapa saat pasukan Yava yang bentrok dengan mantan
tawanan penjara pun berhenti bertarung, mereka tertarik untuk melihat serangan
besar.
Aras yang melihat hal
itu berteriak,
“Ky, Menghindarrr!!”
“Haha,” Iki menoleh
pada Aras dengan senyum kecilnya.
Gumpalan itu serentak
menghancurkan semua yang ada dibawahnya, retakan besar tercipta ditanah.
Beberapa fasilitas umum, termasuk rumah warga yang berada didekat gumpalan itu
pun ikut rusak.
Deddie yang kelelahan
kemudian keluar dari gumpalan tersebut.
“Huahahahaha. Tidak ada
yang bisa bangkit setelah serangan ini. Pengguna mantra es ini pasti sudah
K.O!” Tegas Deddie berkata kepada orang yang melihat kearahnya.
Beberapa tawanan yang
baru saja bisa kabur terlihat kecewa, ia mulai pesimis untuk bisa selamat dari
pasukan Yava.
Aras menjatuhkan
pedangnya,
“Siaall!” katanya.
Tiba-tiba ada sedikit
gerakan dari tanah. Beberapa balok berbentuk seperti potongan kayu mencuat dari
dalam tanah.
“Hahahahaa… Hebat
sekali!! Hahaha.” Suara tawa dari bawah tanah pun mulai terdengar.
“Suara apa itu?” Tanya
beberapa orang.
Deddie terlihat panik.
Ia berencana untuk kabur menggunakan sayapnya.Tetapi tiba-tiba muncul hujan es
dari langit yang menghambat laju terbangnya.
Iki muncul dari bawah
tanah, Ia langsung berlari kencang kearah Deddie.
“Baiklah akan ku
akhiri. Yapp!! Ultimate Ice!!” Kata Iki dengan mengepalkan tangannya.
Hujan es itu kemudian
menjadi semakin cepat. Deddie terjatuh, kemudian hujan es itu membuat mengunci
tubuh Deddie. Deddie terlihat lemas, ia pasrah.
Disaat yang bersamaan,
Iki memanjangkan es yang menyelimuti kepalan tangannya ke depan.
“Raining Forst!”
katanya.
Bbreakkkkk!!! Sebuah
bongkahan yang bergabung dengan tinju Iki tepat mengenai perut Deddie.
Bongkahan es itu bahkan sampai mencuat keluar dari punggunya, bersamaan dengan
darah yang keluar dari tubuh.
Dewa Ninesia kalah! Iki
berhasil membebaskan bangsa Ninesia dari perbudakan dan penjajahan salah satu
Dewa. Aras pun banggit ia langsung menggunakan Ultimate mantranya.
“Ultimate Sword” kata
Aras sembari memasukan pedangnya dalam selongsong di lengan kirinya. Dia
bergerak dengan cepat.
“Fast Cut!” Aras
mengatakannya setelah berbindah tempat.
Pedangnya terlihat
sudah tidak di selongsongnya lagi. Saat ia memasukan pedang ke selongsong untuk
yang kedua kali, para pasukan militer dari Yava terlihat sudah memiliki bekas
sayatan pedang yang dalam. Beberapa pasukan militer Yava jatuh.
Beberapa mantan tawanan
dalam penjara semakin bersemangat, mereka pun terlihat lebih hebat. Semua
pasukan dari Yava yang tersisa pun mundur.
Ninesia menjadi aman,
Deddy berhasil di jebloskan ke penjaranya sendiri. Status dewanya sudah pasti
akan dicopot oleh kerajaan langit.
Walikota menyebarkan
berita pada semua warganya untuk berkumpul di Alun-alun kota. Para tawanan yang
keluar, kembali bertemu dengan keluarganya masing-masing di Alun-alun Ninesia.
Mereka menangis, isak haru dan lautan yang darah pengorbanan warga ninesia yang
berdarah-darah tidaklah sia-sia. Begitu juga dengan isak tangis bocah kecil
bernama Velda itu.
Semua masyarakat
Ninesia menyambut hangat Iki dan yang lainnya, termasuk beberapa tawanan yang berasal dari luar Ninesia. Warga Ninesia
sangat berterimakasih sekali pada Iki. Kedatangan Iki memang telah membawa
dampak positif untuk Ninesia. Walikota Ninesia pun turut berterimakasih pada
Iki, beliau membawakan jamuan untuk Iki.
“Silahkan dinikmati
persembahan dari kami untuk para pahlawan. Kami tidak perlu membuat sesaji
lagi, makanlah sepuasnya!”
Warga Ninesia pun
bahagia bersama, menikmati rasa syukur mereka atas apa yang telah diberikan
Tuhan melalui Iki.
Di tengah-tengah pesta
tersebut, Iki menanyakan sesuatu pada walikota.
“Maaf om! Hehe.. Dimana
pelabuhannya yaa? Aku harus segera pergi ke lautan Dwipa Antara.” Tanya Iki
santai.
“Dwipa Antara?”
Serentah Walikota itu kaget mendengar nama laut itu. “Maafkan saya tuan, kota
ini hanya memiliki satu pelabuhan kecil. Tidak ada kapal besar, hanya ada perahu
kecil milik nelayan.”
“Tidak masalah. Perahu
kecil itu bisa mengantarkanku ke Dwipa Antara kan?” Tanya Iki.
“Maafkan kami, ombak di
samudra Dwipa Antara sangatlah kuat. Perahu kecil kami bisa hancur
berkeping-keping. Itu akan membahayakan kamu tuanku.” Jawab Walikota itu.
“Hahahaa, apa ada saran om?” Tanya Iki lagi.
“Kamu bisa mengambil petualangan
di darat dulu menuju ke barat. Ada kota besar yang memiliki pelabuhan, kota Delhind.”
Jelas Walikota.
“Tapi saya rasa kalian
sudah menjadi kriminal, dewa pasti mulai memburumu. Delhind adalah kota favorit
raja Rama Yavana ke lima, penjagaannya sangat ketat. Puluhan dewa dengan mantra
super bisa kalian temui disana, sekali lagi maafkan kami.” Lanjut walikota.
“Lalu kenapa?” Tanya
Aras pada walikota dengan nada agak tinggi.
“Maafkan saya, saya
tahu kalian kuat. Mantra super yang kalian miliki bisa memenangankan
pertarungan. Tetapi mantra Mahadewa hampir seratus kali lebih kuat dari mantra
biasa. Satu atau dua Mahadewa pasti ada disana, mereka adalah keturunan
langsung dari sang Rama.” Terang walikota.
“Hahahahaha, tidak
masalah. Kalau begitu akan kuhindari Delhind. Om walikota, adakah kota lain
yang memiliki pelabuhan besar lainnya?” Tanya Iki lagi.
“Ada, Yuvi. Tempat
berkumpulnya para kriminal. Tempat ini tidak kalah bahayanya dari Delhind, tapi
kurasa mantra kalian berada dilevel yang sama.” Jawab walikota.
“Baiklah om, antar kami
kesana!” Pinta Iki, yang tertarik.
“Menarik sekali,
berlatih dan mencoba bertarung dengan musuh dengan level yang sama akan
menarik.” Kata Aras menambahkan.
“Baiklah, tapi maafkan
saya. Tempatnya terlalu jauh. Saya hanya bisa mengantar kalian dengan kereta
dari Ninesia sampai daerah Tursina, selanjutnya kalian bisa menelusuri bukit
Tursina untuk mencapai Yuvi.” Jawab walikota.
“Itu sudah cukup, om!
Terimakasih!” kata Iki.
“Terimakasih pak
walikota.” Ucap Aras mengikuti bos barunya.
“Maaf jika saya
lancang, sebenarnya apa tujuan tuan Iki datang kemari?” Tanya walikota.
“Mencari pelabuhan,”
jawab Iki.
“Lantas, apa yang membuatmu
menyelamatkan kota ini?” Tanya walikota lagi.
“Hmmm, apa ya?” Iki
kebingungan. “Aku rasa ini naluriku. Ahhaha,” Jawab Iki tertawa,
Pesta pun selesai.
Malam ini, warga kota
Ninesia tidur nyenyak. Iki dan Aras yang mengantuk terpaksa masih harus menunggu
kereta bersama walikota di stasiun. Kereta itu memiliki tiga jalur, Ninesia,
Tursina dan Delhind.
Walikota Ninesia
tersenyum melihat tingkah Iki dan Aras yang terlihat setengah tertidur. Ia
sangat bersyukur karena bertemu bocah yang memiliki insting untuk menyelamatkan
seseorang.