Pulanglah ketika kau dilanda begitu banyak badai.
Perasaan yang kini hampir tak tersisa begitu banyak menyisakan lara padamu. Cinta tulus yang kau berikan padanya dibalas dengan rasa sakit yang menjatuhkan air matamu. Meskipun dia selalu ada diantara suka dan dukamu, aku selalu menunggu untuk mendengar ceritamu. Saat kau bahagia, aku pula ikut bahagia. Namun tidak pada saat kau penuh lara Cinta. Aku tau kamu tak akan pernah berniat untuk meninggalkannya, tapi apa bisa aku melihatmu terus bersedih hati?
"Seberapapun jauhnya cinta pergi pasti akan selalu kembali, karena cinta tau kemana ia harus pulang"
"Seberapapun jauhnya cinta pergi pasti akan selalu kembali, karena cinta tau kemana ia harus pulang"
Aku masih ingat bagaimana cara pergimu dariku. Pergi begitu jauh dan hilang entah kemana hingga aku tak tau kapan kau akan pulang. Apa kamu enggang untuk pulang? Aku bagai rumah yang selalu menunggumu untuk pulang, Cinta.
Kini sudah tidak bisa lagi aku melihatmu terus seperti ini. Aku tak akan pernah memintamu pulang berkali-kali, tapi aku akan selalu siap membukakan pintu ketika kau ingin singgah. Aku ingin kau singgah sebentar dan belajar dari kesalahan. Sudah berapa kali luka ia berikan padamu, namum kau masih membawa perasaan untuknya yang begitu utuh.
Kini, pulanglah. Aku sudah lelah dengan ruang yang berisi penuh tentang kenanganmu. Pulanglah ke rumah yang selalu meneduhkan hatimu. Disini masih ada jejakmu disetiap ruang, masih ada begitu banyak kenangan yang tersimpan. Biarkan kini sekali lagi aku meneduhkan hatimu. Sudah terlalu banyak badai berlalu menghancurkan perasaanmu. Kini kembalilah, pulanglah ke rumah yang selalu membukakan pintunya untukmu.
Pulanglah, setidaknya di rumah ini selalu ada kepastian.