Teruntuk seorang wanita yang kini sedang bersedih hati, berikanlah aku kesempatan untuk mengusap air mata yang ada di pipimu, melalui kata-kata. Apakah aku boleh tau siapa yang membuat tangis itu? Apakah itu aku? Jika itu aku, tolong maafkanlah aku.
Sesungguhnya aku tidak ingin melihatmu seperti ini. Sikapku yang menjaga jarak ini adalah sikap yang paling tepat untuk seseorang yang sedang ingin sendiri. Kamu tidak pernah mengenal aku, temanku dan juga keluargaku, apalagi apa yang aku sukai. Kamu bahkan tidak pernah tau betapa berantakannya aku ketika kehilangan sesuatu. Aku hanya tak ingin kehilanganmu, ketika aku benar-benar sudah merasa memilikimu. Karena itu, lebih baik aku tak perlu memilikimu.
Jika sudah terlanjur perasaanmu telah jatuh cinta padaku, maka cobalah doakan aku disela-sela ibadahmu. Diriku ini, sesungguhnya bukan milikku, diriku ini adalah milik Tuhan. Aku hanyalah seorang hamba yang sedang berusaha selalu berserah diri padanya. Mengenai cinta lebih baik jangan dipaksakan untuk hubungan yang hanya sebatas pacaran. Jika Tuhan mengabulkan doamu, maka aku pun akan berusaha sekeras mungkin untuk menghalalkanmu.
Sekarang terlalu cepat bagiku untuk mengatakan cinta. Aku takut kata cinta yang terucap dari bibirku hanya sebatas kata saja. Aku tak pernah ingin memaksakan perasaanku padamu. Aku takut perasaan ini palsu dan hanya sebatas nafsu.
Jika kamu selamanya masih sulit menerima aku, maka biarkan saja aku sendiri menunggu untuk yang lain. Seorang sepertiku masih belum butuh cinta darimu. Aku terlalu sering menyakiti diriku sendiri. Aku bahkan lupa kalo sebagian senyum ini hanyalah sedikit rasa dari pemanis buatan.
Tak perlu terburu-buru. Untuk sekarang, kamu cukup doakan saja. Jika memang Tuhan mengijinkan, maka aku yang hanya hambanya akan luluh. Jika kamu masih saja tidak sabar untuk menunggu, aku harap kamu bisa merelakanku.
Pria ini hanyalah seorang hamba Allah.