Seribu tahun yang lalu,
Ini adalah kisah dari seorang pegawai toko yang segenap hidupnya adalah hutang yang harus dibayarkan besok siang.
Hari ini adalah hari ke 701 aku bekerja di toko ini.
Aku adalah satu-satunya pegawai yang masih setia pada toko ini. Bahkan ketika hampir semua karyawannya menghilang, namun aku masih tetap bertahan.
Sendirian.
Sepi nan hampa.
Bingung mengenai apa yang harus dilakukan.
Toko ini sepi.
Sebulan kemarin aku pun sudah mempersiapkannya untuk segera pergi dari toko ini. Namun, sang pemilik toko mengiming-imingi aku sebuah janji. Sebuah kejelasan mengenai apa yang akan terjadi. Seperti gaji pokok yang lebih jelas dan juga bonus yang sepertinya melimpah.
Sebenarnya gajiku bulan kemarin pun sebenarnya belum sempat dibayarkan semuanya.
Aku yang bertahan sejak akhir tahun akhirnya terpaksa berhutang kepada seseorang.
Aku mungkin bisa sedikit merepotkan kedua orangtuaku. Namun aku tau mereka pun sedang dalam masa-masa yang sulit.
Akhirnya hutang seakan-akan seperti lobang yang harus di tutup dengan lobang lagi. Namun lobang itu kini sudah kian membesar.
Aku akhirnya pulang untuk membicarakan keadaan yang sebenarnya kepada orangtuaku.
Namun aku yang masih berharap kejelasan, menceritakan sesuatu yang jelas-jelas tidak terjadi.
Aku berbohong mengenai gaji yang diberikan si pemilik toko kepada orang tuaku.
Jujur saja aku ingin segera lari dari permasalahan ini.
Akhir bulan ternyata toko itu pun berantakan. Sang pemilik tanah mengusir kami dari sana karena tidak bisa membayar uang sewa.
Akhirnya kami terpaksa membuka toko kami di suatu tempat yang jauh dari perkotaan. Harga sewa tanah jelas lebih murah.
Aku masih setia bersama si pemilik toko.
Toko agak sepi sejak berpindah di tempat yang baru, karena itu aku berangkat agak siang kesana. Karena aku bingun mengenai apa yang harus dilakukan. Namun sebenarnya aku terkadang juga berangkat lebih pagi.
Aku benar-benar percaya dengan kata-kata sang pemilik. Hingga akhirnya tiba hari ini.
"Ini gajimu," katanya.
Nilainya sebenarnya cukup besar. Namun 100 perak bukanlah nilai yang cukup untuk menutupi lubang-lubang yang kian membesar.
Jujur ini adalah pukulan bagiku. Namun sebenarnya aku masih mencoba untuk tetap bersukur.
Aku hanya kecewa dengan perkataannya.
Aku hanyalah seorang pegawai toko yang berharap majikanku menghargai kesetianku dengan apresiasi. Bukan malah sebuah hinaan akan apa yang aku kerjaan.
Aku minta maaf sebagai pegawai belum bisa memberikan apa-apa untuk toko ini. Aku hanya tak ingin disalahkan karena kesalahanku. Setidaknya tolonglah ucapkan terimakasih atas kesetiaanku.
Aku minta maaf.
Aku pergi.
***
Pesan moral:
"Apapun yang terjadi jangan pernah sekalipun mencoba untuk berdusta."
"Syukuri apapun yang telah terjadi. Semakin banyak rasa syukur kita, semakin banyak kebahagian yang akan kita peroleh."
"Jangan pernah berjanji jika kau tak bisa menepatinya."
"Hargailah kesetiaan seseorang! Jangan pernah cari kesalahannya! Hal itu akan sangat membuatnya kecewa."
Dan mungkin Netizen bisa menambahkannya sendiri di kolom komentar.
Sekian.
Terimakasih.
