| Pria Ini Lagi Olahraga, Melupakan Rasa yang Dulu Pernah Ada. |
Memalukan sekali, ketika seorang pria akhirnya harus menangis hanya karena seorang wanita. Seperti aku di mimpiku kemarin. Seakan-akan, malah terulang kembali perasaan akan kehilangan. Padahal sudah lama berpisah, namun masih saja menyisakan lara. Jatuh hatiku yang pertama tak mudah membuatku berpaling darimu. Ketika kamu sudah berkali-kali berganti pasangan, aku masih saja meragu. Pada cinta, aku malah memilih untuk sendiri.
Perasaan cinta yang sempat membuatku kecewa, akhirnya terulang kembali dalam mimpi. Benar-benar menyebalkan. Bisa-bisanya aku mengingatmu, ketika aku sedang tak berdaya. Ini bahkan seperti cerita nostalgia yang membuatku tidak bisa tidur. Atau mungkin lebih tepatnya memang aku tak ingin tidur. Karena ketakutan mimpi yang membawamu melukaiku datang untuk kedua kali.
Huh! Kupikir senyum yang kamu lontarkan kemarin malam adalah pesan dari hati. Tapi nyatanya, tetap saja mimpi itu seperti reka ulang hari dimana akhirnya kamu meninggalkan aku. Hari dimana pertama kalinya kamu memalingkan muka dariku. Bukankah aku sudah memanggilmu berkali-kali, namun tak sekalipun kamu menoleh. Seperti mimpi tentangmu kemarin malam, senyum itu bagaikan reka ulang tentang perasaanku yang dipatahkan. Aku beruntung puing-puing itu masih bisa ku susun kembali tanpamu. Meskipun aku seperti menutup pintu hatiku.
Setiap pria selalu bisa mengingat kenangan yang mengubah lubuk hatinya dari cinta pertamanya. Aku pernah lepas dari kehidupan yang kosong karenamu. Mimpiku kemarin bagaikan hati Adam di surga, ketika melihat Hawa berdiri dihadapanya seperti pilar cahaya. Senyummu adalah rahasia yang selalu memenuhi hatiku, dengan banyak pertanyaan, yang tak mampu aku jawab.
Kini, aku bagaikan setetes embun yang dituangkan oleh matamu. Kemarin malam adalah sebutir mutiara yang dibawa oleh pasang laut ke bibir pantai dan dikembalikan oleh surut ke lautan. Mimpi tentangmu adalah setangkai bunga yang baru mekar dari kuncup kehidupan dan diinjak oleh kaki kematian. Lalu, kamu sendiri adalah tamu tercinta yang kemunculannya pada mimpi mampu menyinari hatiku dan yang kepergiannya membunuh jiwaku.