Manusia dan Sastra


Peradaban manusia, beserta proses penciptaan alam semesta
tidak terlepas dari karya sastra sang Tuhan.
Manusia sejatinya selalu ingin dikenang,
mereka membangun bangunan yang megah,
agar keturunannya di masa depan bisa melihat
betapa hebatnya pendahulunya.

Kemudian dalam masanya muncul zaman
dimana manusia bisa mengenal tulisan.
Firaun dan pengikutnya menulis cerita tentang
dewa-dewa nya di dinding piramida
Dan di zaman ini, kita bisa melihat coretan yang indah
dari meja di kelasmu ataupun dinding-dinding
di fasilitas umum.

Jika tidak ada seni tulis,
bisakah kau bayangkan betapa sulitnya Musa
untuk membimbing Bani Israil dengan Taurat?
betapa sulitnya Kahlil Gibran
untuk mengabadikan syairnya?
betapa sulitnya Soekarno
untuk merumuskan teks Proklamasi?
betapa sulitnya Kamu
untuk mengirim surat pada pacarmu?
kemudian, betapa sulitnya penulis disini
untuk mencari uang?
maaf, ini hanya intermezo.

Tapi, kini manusia dan sastra sudah terlampau jauh
Perkataan kotor, perilaku bully melalui tulisan
lewat media sosial sudah terlalu banyak.
Kemudian apresiasi manusia semakin menurun
semenjak ada kata "Baper" dan "Lebay"
begitu mudahnya mereka menyepelekan
perasaan manusia dan sastra.


Postingan terkait: